Pada malam aku berbisik, tentang
segala luka yang terus menghakimi diriku. Tidak jua ku dapat alur
penyelesaiannya. Bertahun-tahun memendam kekecewaan yang membuat hati semakin
tersiksa. Bukan hanya kepada mereka yang telah berdusta, akan tetap kepada diri
yang terlalu mudah memendam kebencian.
Tidak seharusnya
aku hanya diam membisu. Melihat anak kecil tak berdosa menjadi taruhannya. Anak
yang seharusnya mendapat kasih sayang dan kelembutan dari orang-orang sekitarnya,
justru harus ikut merasakan pahitnya kehidupan. Tiada sekalipun ia mendapat
perlakuan yang adil dari mereka, para orang tua yang tak punya sedikitpun
pengetahuan tentang cinta kepada anak kecil. Padahal mereka mempunyai anak yang
seumuran dengannya.
Sering ku lihat ia
tak terurus, bajunya compang-camping, wajahnya yang dahulu terlihat begitu
indah dipandang kini terganti dengan wajah pucat pasi. Tak banyak orang yang
mengetahuinya. Mungkin hanya Allah yang tahu keburukan-keburukan yang
ditimpakan pada anak kecil usia 2 tahunan itu. Setiap kali aku hanya mampu
menatapnya dari kejauhan, dari kaca jendela rumah yang berhadapan langsung
dengan rumah itu. Rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan
kesombongannya.
Aku hanya merasa
kasian kepada anak itu. Chika, seorang anak yang belum seharusnya menatap dunia
yang pahit. Ayahnya baru saja meninggal dunia, dan ibunya harus bekerja diluar
kota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia kini dirawat oleh nenek Mirna,
seorang saudagar kaya yang sombong. Hanya kepada cucu tersayangnya saja ia
berikan perhatian lebih. Bukan kepada anak kecil yang membutuhkan perlindungan
darinya.
“Nih makan!!!”
Nenek Mirna menjejalkan makanan ke mulut Chika siang itu. Chika terus menangis
tanpa henti. Pada kenyataannya, ia tak pernah sekalipun disuapi ketika akan
makan. Lain halnya dengan Iva, cucu pertamanya yang sangat dimanjakan itu. Ia
selalu digendong, dielus-elus dan diberikan perhatian yang lebih.
“Suruh makan saja
susah!!!” Nenek Mirna melempar piring yang berisi makanan kepada Chika. Chika
hanya bisa menangis. Air matanya terus mengalir, suaranya sudah hampir habis
dengan tangisan itu. Tak ada yang peduli. Ia tak pernah mendapat kasih sayang
dari orang-orang sekitarnya. Sungguh malang nasib yang menimpanya. Entah apa
yang membuat nenek Mirna begitu kejam terhadap bocah cilik itu.
Anak kecil
seharusnya mendapatkan perlindungan, pendidikan dan kasih sayang dari orang
tua. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui dunia luar. Ia tidak seharusnya
mendapat perlakuan keras dari orang-orang sekitarnya. Lalu, apa yang bisa aku
perbuat untuknya? aku bukanlah ibunya, bukan pula saudaranya. Aku hanya
tetangga terdekatnya. Ingin sekali ku belai rambutnya, ku kecup keningnya. Lalu,
akan kubawa ia dalam dekapanku.
Sampai suatu ketika,
dunia telah merubah cara berpikir seseorang. Warga desaku telah banyak
menyaksikan siksaan keluarga Mirna kepada cucunya sendiri. Mereka pun melapor
kepada Ketua RW desaku yang kebetulan adalah kakekku sendiri. Beberapa dari
mereka pernah melihat dengan jelas saat nenek Mirna menyiksa bocah cilik itu.
Sebagai Ketua RW, kakekku tidak semena-mena dalam menangani kasus tetangganya.
Semua membutuhkan bukti yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak
ada bukti, sia-sialah saja segala hal yang akan dilaporkan ke pihak berwajib.
“Ibu, ibu, kita
semua membutuhkan bukti jika ingin melaporkan tindak kekerasan nenek Mirna
kepada cucunya itu. Bukti itu sangat penting. Kalau hanya melapor tanpa ada
bukti yang otentik, tiadalah gunanya. Sama
seperti ketika kita mengisi bak mandi yang
bocor, sebanyak apapun air yang kita tumpahkan kedalamnya, bak tidak
akan terisi penuh. Bukankah itu sia-sia saja? Karena mereka lebih cerdas dari
yang kita pikirkan.” Jelas Kakek Raji saat warga satu per satu mengeluarkan
pendapatnya. Warga pun menerima dengan baik penjelasan dari kakekku.
Kemudian, saat
senja berganti malam, aku memberanikan diri mengintip Nenek Mirna dari jendela
kamar yang terlihat langsung ke arah rumah besar bercat biru itu. Mataku
mengamati sekeliling rumah dengan
seksama. Tiada kejanggalan malam itu. Sepertinya nenek Mirna dan penghuni rumah
itu sudah tertidur lelap. Hanya terdengar suara burung hantu yang menjadi
piaraan nenek berusia 65 tahunan itu. Sebelum menutup kembali jendela kamarku, mataku
menemukan bayangan manusia yang terlihat jelas di jendela kamar dengan korden
berwarna putih. Bayangan manusia itu terlihat sedang memukul anak kecil yang
berada dibawahnya. Tidak salah lagi, itu pasti nenek Mirna, batinku. Kemudian
tanpa berpikir panjang ku ambil handphone dan mencoba memvideo
adegan-adegan itu. Siapa tahu ini bisa dijadikan bukti, batinku lagi.
Pagi harinya, aku
bermaksud menemui kakekku untuk memperlihatkan video yang berhasil ku rekam
tempo malam. Namun, saat aku membuka pintu rumah, banyak warga yang berkerumun
memenuhi rumah nenek Mirna. Aku tidak tahu betul apa yang terjadi.
“Ada apa, Pak?”
tanyaku kepada salah seorang warga yang berkerumun
“Chika mati
terbunuh dengan tragis. Matanya berlumur darah, kaki dan tangannya tepisah dan
kepalanya berdarah akibat pukulan yang keras.”
Mendengar kabar itu, tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, handphone
yang ku genggam terjatuh, pikiranku
melayang tiada dapat kucegah, mataku tiba-tiba merabun, kaki dan tanganku tiada
lagi dapat menopang tubuhku. Aku jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.
Semua warga
melaporkan nenek Mirna ke polisi setempat. Nenek Mirna mengaku bersalah dan ia
yang telah membunuh cucunya sendiri. Setelah diperiksa pihak kepolisian dengan
menghadirkan Psikolog, ternyata nenek Mirna mempunyai sakit kejiwaan. Ia pun
dihukum penjara seumur hidup.
Perasaan bersalah
atas semua hal yang berkaitan dengan kematian Chika selalu terbayang didalam
benakku. Jika saja malam itu aku buru-buru datang ke rumah nenek Mirna dan
membawa Chika ke rumahku, mungkin semuanya tidak akan setragis ini. Lalu, apa
gunanya diriku ini? hanya sebagai
penonton yang tiada berani ditonton. Hanya menjadi patung melihat kejahatan
merajalela. Begitu saja terus menerus.
“Kau sungguh
bodoh, Linda!” Aku menghakimi diriku sendiri, setiap ku ingat kejadian malam
itu, setiap bayangan-bayangan Chika bergelayut dalam pikiranku.
Sehari setelah
kematian Chika, aku selalu memimpikan bocah cilik itu. Bajunya yang biasanya
compang-camping tiada lagi terlihat seperti itu. Dalam mimpi ia memakai pakaian
yang bersih, wangi dan enak dipandang. Ia juga selalu mengembangkan senyumnya
kepadaku. Bibirnya yang mungil dan pipinya yang dihiasi lesung pipit menambah
manis wajahnya. Jika saja itu bukan mimpi, akan kubawa ia hadir disisiku dan
akan kurawat dia seperti adikku sendiri. Aku sungguh merindukannya. “Bahagialah
disana, Dik.” Batinku lirih.






