Rabu, 04 April 2018

CERPEN: Bahagialah di sana, Dik



Pada malam aku berbisik, tentang segala luka yang terus menghakimi diriku. Tidak jua ku dapat alur penyelesaiannya. Bertahun-tahun memendam kekecewaan yang membuat hati semakin tersiksa. Bukan hanya kepada mereka yang telah berdusta, akan tetap kepada diri yang terlalu mudah memendam kebencian.
 Tidak seharusnya aku hanya diam membisu. Melihat anak kecil tak berdosa menjadi taruhannya. Anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dan kelembutan dari orang-orang sekitarnya, justru harus ikut merasakan pahitnya kehidupan. Tiada sekalipun ia mendapat perlakuan yang adil dari mereka, para orang tua yang tak punya sedikitpun pengetahuan tentang cinta kepada anak kecil. Padahal mereka mempunyai anak yang seumuran dengannya.
            Sering ku lihat ia tak terurus, bajunya compang-camping, wajahnya yang dahulu terlihat begitu indah dipandang kini terganti dengan wajah pucat pasi. Tak banyak orang yang mengetahuinya. Mungkin hanya Allah yang tahu keburukan-keburukan yang ditimpakan pada anak kecil usia 2 tahunan itu. Setiap kali aku hanya mampu menatapnya dari kejauhan, dari kaca jendela rumah yang berhadapan langsung dengan rumah itu. Rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kesombongannya.
            Aku hanya merasa kasian kepada anak itu. Chika, seorang anak yang belum seharusnya menatap dunia yang pahit. Ayahnya baru saja meninggal dunia, dan ibunya harus bekerja diluar kota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia kini dirawat oleh nenek Mirna, seorang saudagar kaya yang sombong. Hanya kepada cucu tersayangnya saja ia berikan perhatian lebih. Bukan kepada anak kecil yang membutuhkan perlindungan darinya.
            “Nih makan!!!” Nenek Mirna menjejalkan makanan ke mulut Chika siang itu. Chika terus menangis tanpa henti. Pada kenyataannya, ia tak pernah sekalipun disuapi ketika akan makan. Lain halnya dengan Iva, cucu pertamanya yang sangat dimanjakan itu. Ia selalu digendong, dielus-elus dan diberikan perhatian yang lebih.
            “Suruh makan saja susah!!!” Nenek Mirna melempar piring yang berisi makanan kepada Chika. Chika hanya bisa menangis. Air matanya terus mengalir, suaranya sudah hampir habis dengan tangisan itu. Tak ada yang peduli. Ia tak pernah mendapat kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Sungguh malang nasib yang menimpanya. Entah apa yang membuat nenek Mirna begitu kejam terhadap bocah cilik itu.
            Anak kecil seharusnya mendapatkan perlindungan, pendidikan dan kasih sayang dari orang tua. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui dunia luar. Ia tidak seharusnya mendapat perlakuan keras dari orang-orang sekitarnya. Lalu, apa yang bisa aku perbuat untuknya? aku bukanlah ibunya, bukan pula saudaranya. Aku hanya tetangga terdekatnya. Ingin sekali ku belai rambutnya, ku kecup keningnya. Lalu, akan kubawa ia dalam dekapanku.
            Sampai suatu ketika, dunia telah merubah cara berpikir seseorang. Warga desaku telah banyak menyaksikan siksaan keluarga Mirna kepada cucunya sendiri. Mereka pun melapor kepada Ketua RW desaku yang kebetulan adalah kakekku sendiri. Beberapa dari mereka pernah melihat dengan jelas saat nenek Mirna menyiksa bocah cilik itu. Sebagai Ketua RW, kakekku tidak semena-mena dalam menangani kasus tetangganya. Semua membutuhkan bukti yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak ada bukti, sia-sialah saja segala hal yang akan dilaporkan ke pihak berwajib.
            “Ibu, ibu, kita semua membutuhkan bukti jika ingin melaporkan tindak kekerasan nenek Mirna kepada cucunya itu. Bukti itu sangat penting. Kalau hanya melapor tanpa ada bukti yang otentik,  tiadalah gunanya. Sama seperti ketika kita mengisi bak mandi yang  bocor, sebanyak apapun air yang kita tumpahkan kedalamnya, bak tidak akan terisi penuh. Bukankah itu sia-sia saja? Karena mereka lebih cerdas dari yang kita pikirkan.” Jelas Kakek Raji saat warga satu per satu mengeluarkan pendapatnya. Warga pun menerima dengan baik penjelasan dari kakekku.
            Kemudian, saat senja berganti malam, aku memberanikan diri mengintip Nenek Mirna dari jendela kamar yang terlihat langsung ke arah rumah besar bercat biru itu. Mataku mengamati sekeliling rumah  dengan seksama. Tiada kejanggalan malam itu. Sepertinya nenek Mirna dan penghuni rumah itu sudah tertidur lelap. Hanya terdengar suara burung hantu yang menjadi piaraan nenek berusia 65 tahunan itu. Sebelum menutup kembali jendela kamarku, mataku menemukan bayangan manusia yang terlihat jelas di jendela kamar dengan korden berwarna putih. Bayangan manusia itu terlihat sedang memukul anak kecil yang berada dibawahnya. Tidak salah lagi, itu pasti nenek Mirna, batinku. Kemudian tanpa berpikir panjang ku ambil handphone dan mencoba memvideo adegan-adegan itu. Siapa tahu ini bisa dijadikan bukti, batinku lagi.
            Pagi harinya, aku bermaksud menemui kakekku untuk memperlihatkan video yang berhasil ku rekam tempo malam. Namun, saat aku membuka pintu rumah, banyak warga yang berkerumun memenuhi rumah nenek Mirna. Aku tidak tahu betul apa yang terjadi.
            “Ada apa, Pak?” tanyaku kepada salah seorang warga yang berkerumun
            “Chika mati terbunuh dengan tragis. Matanya berlumur darah, kaki dan tangannya tepisah dan kepalanya berdarah akibat pukulan yang keras.”
Mendengar kabar itu, tiba-tiba  jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, handphone yang ku genggam terjatuh,  pikiranku melayang tiada dapat kucegah, mataku tiba-tiba merabun, kaki dan tanganku tiada lagi dapat menopang tubuhku. Aku jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.
            Semua warga melaporkan nenek Mirna ke polisi setempat. Nenek Mirna mengaku bersalah dan ia yang telah membunuh cucunya sendiri. Setelah diperiksa pihak kepolisian dengan menghadirkan Psikolog, ternyata nenek Mirna mempunyai sakit kejiwaan. Ia pun dihukum penjara seumur hidup.
            Perasaan bersalah atas semua hal yang berkaitan dengan kematian Chika selalu terbayang didalam benakku. Jika saja malam itu aku buru-buru datang ke rumah nenek Mirna dan membawa Chika ke rumahku, mungkin semuanya tidak akan setragis ini. Lalu, apa gunanya diriku ini?  hanya sebagai penonton yang tiada berani ditonton. Hanya menjadi patung melihat kejahatan merajalela. Begitu saja terus menerus.
            “Kau sungguh bodoh, Linda!” Aku menghakimi diriku sendiri, setiap ku ingat kejadian malam itu, setiap bayangan-bayangan Chika bergelayut dalam pikiranku.
            Sehari setelah kematian Chika, aku selalu memimpikan bocah cilik itu. Bajunya yang biasanya compang-camping tiada lagi terlihat seperti itu. Dalam mimpi ia memakai pakaian yang bersih, wangi dan enak dipandang. Ia juga selalu mengembangkan senyumnya kepadaku. Bibirnya yang mungil dan pipinya yang dihiasi lesung pipit menambah manis wajahnya. Jika saja itu bukan mimpi, akan kubawa ia hadir disisiku dan akan kurawat dia seperti adikku sendiri. Aku sungguh merindukannya. “Bahagialah disana, Dik.” Batinku lirih.

Continue reading...

Jumat, 18 Maret 2016

CERPEN : Cahaya Kasih itu Tak Akan Meredup


Ketika takdir berkata lain, apa yang patut disesali? Bulir-bulir cinta akan terus temani. Bersama hangatnya kasih tak terhenti.
Siang itu, terik matahari berasa tepat diatas ubun-ubun. Semilir angin hanya sebentar saja menghampiri, kemudian berlalu begitu saja. Tetesan keringat mulai mengalir dari dahi seorang laki-laki berkulit sawo matang yang sedari tadi duduk di gubuk kecil ditengah sawah. Pakaian putih yang dikenakannya kini telah bercampur dengan gulatan lumpur. Begitulah keadaan Marwan, seorang laki-laki lulusan sarjana pendidikan yang kini bekerja di ladang persawahan milik Sardi, Kakeknya. Sudah dua tahun silam ia tinggal di rumah kakeknya di Desa Rambutan. Ibu dan bapaknya sudah meninggal karena kecelakaan saat menghadiri wisuda Marwan bulan April 2013 lalu. Ia kini hanya sebatang kara. Menikmati hidup dengan menumpang di rumah kakeknya. Jika tak ada Kakek Sardi, entah jadi apa dia sekarang. Bahkan, sanak saudaranya yang lain tak begitu memperhatikannya.
            Ia mengusap keringat yang mengalir di pelupuk dahinya. Meski merasa sangat lelah ia meneruskan kembali pekerjaanya.
            “Wan, istirahat dahululah, kau terlihat sangat lelah.” Ucap Didin yang sedari tadi sibuk mengaduk-aduk kopi hitam dan kemudian menyeruputnya.
            “Ahh.. istirahat melulu, kapan selesainya pekerjaan kita, Din.” Jawab Marwan sembari mengambil cangkul yang berada tak jauh darinya.
            “Kau ini, selalu saja begitu. Ya sudahlah aku tak bisa apa-apa lagi.” Jawab Didin pasrah. Didin adalah sahabat karib Marwan di Desa Rambutan. Ia bekerja di ladang persawahan milik Pak Darno yang berada bersebelahan dengan sawah milik Kakek Sardi.
            Bekerja sebagai petani bukanlah salah satu impian Marwan. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali mengabdikan dirinya menjadi pengajar. Menularkan ilmunya kepada anak-anak yang membutuhkan. Tetapi, ia tidak mungkin meninggalkan kakeknya sendiri di rumah yang saat ini ia tempati. Dilema besar terus menyelimuti hati dan pikirannya. Kasih sayangnya kepada Kakek Sardi tak dapat ia bandingkan dengan apapun. Jika kini ia menatap bintang dan bulan selalu bersama, iapun ingin seperti itu bersama kakeknya.
            “Nak, kau sedang apa?” Suara kakek Sardi menggugah lamunan Marwan. Iapun menoleh ke sumber suara yang terdengar sedikit serak-serak itu.
            “Apa yang sedang kau pikirkan, Nak? Kau terlihat bingung?”  Tanya kakek Sardi sembari menepuk punggung Marwan kemudian duduk disampingnya.
            “Tak apa Kek, hanya merasa rindu dengan Bapak dan Ibu.”
            “Maafkan kakek, Nak. Kakek belum bisa mengantarmu ke makam ibu, bapakmu.”
            “Kakek…” ucapnya lirih. Tangannya memeluk tubuh kakeknya. Ia memncoba menahan perasaan haru yang kian menyelimuti hatinya.
            “Kakek tak pernah salah dimata Marwan. Kakek sudah menjadi bapak sekaligus ibu buat Marwan. Tetaplah disisi Marwan. Marwan sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kakek sumber kebahagiaan Marwan sampai saat ini, Kek” Pelukan Marwan semakin erat. Perlahan bening kristal jatuh dari sudut matanya. Sedangkan kakek Sardi, ia mengusap rambut Marwan dengan lembut. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Marwan mengeratkan pelukannya. Air matanya belum juga berhenti menetes. Malam itu, gemerlap bintang menjadi saksi kecintaan Marwan kepada kakeknya. Kala itu, udara malam mulai menusuk tulang, menjalar keseluruh peredaran darah. Dinginnya malam tidak membuat mereka beranjak masuk kedalam rumah. Mereka menikmati suasana malam nan indah itu bersama gemerlap bintang nan indah di langit.
            Seperti biasa, seusai sholat subuh,  Marwan dan kakek Sardi pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Rona bahagia mewarnai hari-hari mereka. Pagi itu, Marwan berniat ke kantor kecamatan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Ia ingin mengurus Kartu Tanda Penduduk yang sudah kadaluarsa. Pakaian batik berwarna cokelat ia kenakan. Sebagai lulusan sarjana, tak mungkin ia pergi ke kantor kecamatan dengan memakai kaos oblong. Ia masih tahu sopan santun ketika bertemu ditempat umum dengan aparat desa sekalipun.
            Ia kembali merapikan pakaiannya. Aroma harum parfumnya membuat Kakek Sardi terbatuk-batuk.
            “Cucu kakek, ganteng sekali kau, Nak.” Ucap kakek sembari terbatuk-batuk kecil.
            “siapa dulu kakeknya.” Balas Marwan sambil mengedipkan mata kanannya, membuat kakeknya begitu gemas.
            “kenapa dari dahulu kau tak melamar pekerjaan, Nak? Kau kan lulusan sarjana pendidikan?” ucap kakek sambil mengaduk-aduk teh manis miliknya. Marwan tidak buru-buru menjawab pertanyaan yang dilontarkan kekek Sardi kepadanya. Pikirannya menerawang jauh mengingat semua perjuangannya sampai ia bisa menamatkan kuliahnya. Betapa besar perjuanganya untuk bisa tamat kuliah, juga betapa besar perjuangan ibu dan bapaknya mendoakan dan membiayai kuliahnya.
            “Nak, kau melamun?” ucap kakek Sardi kemudian.
            “ehh.. ohh, tidak Kek, nanti akan Marwan pikir-pikir lagi. Marwan berangkat dahulu ya Kek.” Marwan mencium tangan kakeknya sembari mengucapkan salam. Ia berlalu dari hadapan kakeknya. Dengan langkah pelan, ia berjalan keluar rumah. Ia terus saja memikirkan ucapan kakeknya. Sungguh, dalam lubuk hatinya ia sangat ingin melamar pekerjaan. Tapi, bagaimana dengan kakek? Pikirnya penuh pertimbangan.
            “Hey… Marwan” panggil seorang laki-laki yang tidak lain adalah sahabat karibnya. Marwan tak menjawabnya hanya melambaikan tangan dan berjalan mendekatinya.
            “Kenapa lagi kau, Wan. Pagi-pagi kok sudah murung?” tanya Didin kemudian.
            “bingung Din.” Jawab Marwan sambil terus memainkan jari-jari tangannya.
            “tak biasanya kau seperti ini Wan. Bingung masalah apa? Jangan-jangan bingung memilih jodoh yaa?” ledek Didin.
            “Ahh.. kau ini, jodoh melulu. Ini masalah pekerjaan Din.” Jawab Marwan sedikit mencurahkan isi hatinya kepada sahabat karibnya itu.
            “Kau mau melamar kerja Wan? Pantas saja pakai batik pagi-pagi begini.” Pertanyaan Didin membuat Marwan semakin geram. Akhirnya ia menceritakan keluh kesahnya kepada Didin. Tentang pekerjaan yang selama ini menjadi impiannya. Dan tentang kakek yang sangat disayanginya.
            “Yasudah Wan, kamu ikuti kata hatimu. Aku yakin kakek Sardi tidak akan melarangmu untuk menggapai impianmu itu.  Kau tak usah bingung-bingung lagi. Aku kan tetangga dekatmu Wan. Aku juga cukup dekat dengan kakekmu. Aku pasti akan menjaganya jika kau tak ada disisinya. Kau tahu sendiri kan Wan, sebelum kau pindah ke sini, aku selalu mengunjungi kakekmu tiap hari. Kakekmu sudah kuanggap sebagai kakekku sendiri, Wan.” Terang Didin kemudian. Ia menepuk-nepuk punggung Marwan. Sedangkan Marwan, ia tiba-tiba memeluk tubuh sahabatnya itu.
            “Terima kasih Din” ucap Marwan sembari menepuk punggung Didin. Ia terus saja berterima kasih kepada sahabatnya itu. Ia seperti mendapat wangsit melalui sahabatnya. Ia semakin bersemangat untuk melamar pekerjaan. Tidak ada lagi keragu-raguan dibenaknya saat ini. Api semangat telah berkobar-kobar. Hari itu juga, ia putuskan untuk melamar pekerjaan. Ia akan mengunjungi sebuah sekolah kecil yang berada di desa seberang. Sebuah desa kecil dan hanya ada satu sekolah di sana.
            Satu buah amplop besar berwarna cokelat yang berisi ijazah dan surat lamaran pekerjaan kini berada ditangannya. Semua berkas-berkas untuk melamar pekerjaan sudah siap. Rona bahagia tersirat di wajah Marwan. Kemudian ia mencari jas hitam pemberian bapaknya. Sudah sekian lama jas hitam itu hanya tersimpan di dalam almarinya. Tak pernah tersentuh sekalipun. Kini, ia akan memakai jas tersebut untuk pertama kalinya dan untuk tujuan yang sungguh mulia. Marwan melihat dirinya di cermin. Senyum bahagia menghiasi bibir mungilnya. Wajahnya yang sering murung kini berubah seketika. Setelah Marwan merasa dirinya sudah pantas, ia kemudian mencari Kakek Sardi. Sudah dua jam lebih Kakek Sardi tidak kelihatan di rumah. Padahal hari ini menjadi hari yang bersejarah dalam hidup Marwan.
            “Wan… wan…” tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari depan rumah memanggil nama Marwan. Ia langsung menghampiri sumber suara itu. “Pak Darno” batinnya lirih.
            “Ada apa, Pak?”
            “Kakek Wan…”
            “Kenapa dengan kakek, Pak?” Wajah Marwan seketika berubah panik.
            “Kakekmu jatuh tak sadarkan diri.”
Mendengar jawaban Pak Darno, tubuh Marwan seketika melemas, amplop yang berada di tangannya terjatuh begitu saja. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ia hanya diam menunduk. Tak berani ia menangis dihadapan Pak Darno, ia malu sebab ia lelaki. Jantung dan hatinya seperti runtuh seketika. Tak banyak orang tahu, rasa cinta yang selalu terpancar dari dalam lubuk hatinya, hanya untuk Kakek Sardi seorang. Orang yang selama ini menemaninya. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa Kakeknya jatuh dan tak sadarkan diri. Apa yang mesti ia perbuat? Matanya kian memejam. Gelap, tak ada sedikitpun cahaya. Marwan pingsan seketika. Tak sadarkan diri.
            Sebagian warga Desa Rambutan sudah berada di rumah Kakek Sardi. Kakek Sardi kini telah tiada. Entah bagaimana perasaan Marwan ketika ia sudah sadar nantinya. Melihat Kakek yang amat dicintainya itu terbujur kaku dihadapannya. Didin, yang sedari tadi menunggu Marwan di kamarnya ikut merasakan kepedihan yang mendalam. Bagaimanapun, Kakek Sardi telah ia anggap sebagai kakeknya sendiri.
            “Din…” suara lirih memanggil nama Didin.
            “Marwan, kau sudah sadar.” Didin mendekatkan tubuhnya disamping ranjang. Ia kemudian memeluk erat sahabat karibnya itu.
            Marwan hanya bisa menangis dipelukan sahabatnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika takdir berkata lain, apa yang patut disesali? Bulir-bulir cinta akan terus temani. Bersama hangatnya kasih tak terhenti. Rona bahagia yang dahulu terpancar di wajah Marwan perlahan meredup. Namun, besar kasih sayang Marwan kepada Kakeknya tak akan pernah meredup, sampai kapanpun.

Terbit di Penerbit Lokamedia kumcer Rindu. 
Biodata Narator :

Rokhayati, lahir di Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswi Universitas Negeri Semarang (UNNES). Ia beralamat di Jl. Taman Siswa, Gang Kantil 1B No. 03, Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Ia bisa di hubungi melalui Facebook Rokha An-Nafsi, E-mail khayyaaa@gmail.com .
Continue reading...

Minggu, 14 Juni 2015

CERPEN "Aku dan Mimpiku"


Malam semakin larut, tak ada lagi celotehan dari teman-teman satu kos ku. Hanya terdengar suara mp3 pengahantar tidur. Aku mulai menulis, menuangkan ide brilian. Tanganku menuntun pena untuk menari-nari diatas kertas. Goresan pena membentuk huruf, menyatu menjadi sebuah kata, terangkai menjadi sebuah kalimat. Terbentuklah coretan yang berantakan, acak dan tak karuan. Namun ku nikmati moment itu. Dikesunyian malam saat paling mudah mencari inspirasi. Pikiranku menerawang jauh, mengingat masa-masa SMA ku. Sungguh indah masa SMA itu. Beda sekali dengan yang kurasakan saat ini. Namun, selalu ku ingat tujuan awalku disini. Aku harus bisa melawan rasa malas. Aku harus bisa meraih cita cita demi membuat mereka tersenyum bahagia melihat kesuksesanku nanti.
*****
Aku bangun jam tiga pagi. Walaupun agak berat, males dan dingin yang membuatku ingin tidur lagi. Namun sekarang aku mulai bangun. Memaksakan diri. Dan akhirnya berhasil. Ku matikan alarm hp stelah berbunyi berderai kencang. “Akhirnya aku bisa bangun jam 3”, gumamku dengan rasa bangga. Hari-hari sebelumnya, aku berusaha membiasakan diri untuk bangun jam tiga pagi. Namun gagal. Meskipun alarm berbunyi dengan nada keras, aku hanya meraba-raba hp untuk mematikan alarm. Lalu kulanjutkan tidurku.
Pohon cemara, damar dan pinus menancap di badan bukit yang miring. Udaranya begitu segar. Alam pegunungan yang begitu indah. Membawa suasana romantis. Bagi setiap pasangan yang mendatanginya. Aku bersama Fahri, orang yang aku kagumi sejak awal aku masuk di Perguruan Tinggi. Yang selama ini banyak memotivasiku. Aku berdiri di puncak bukit bersamanya. Menikmati keindahan alam. Yang membuatku begitu bahagia. Bersamanya ku selalu tersenyum, bersamanya hidupku lebih berwarna. Ahh sungguh indah moment ini.  Tiba tiba aku mendengar sebuah suara “Drrrrr Drrrrr, ting tong ting tong, tolelit, tolelit, tolelit”, Suara itu benar benar Memekik telingaku. Suara itu terus berderai. Kencang. Lalu aku tersadar. Mendapati diriku sedang memeluk bantal gulingku, akhirnya aku pun bangun.
Argh!!! menganggu, gerutuku kesal. Alarm  membuyarkan mimpi indahku bersama Fahri. Akupun mematikan alarmku dan kembali tidur lagi. Sepuluh menit kemudian. Alarm kembali berbunyi. Derai kencangnya membangunkan diriku.  Lalu aku men-off kan alarmnya, tidur lagi. Plong. aku bangun kesiangan.
Waduh!, kenapa aku nggak bangun jam tiga?. Ah, sia sia,
aku menyesal. Mau tidak mau aku harus mandi, makan dan berangkat kuliah. Walaupun nggak mood.
*****
Lin, Aku kok susah ya bangun jam tiga pagi. Awalnya alarm berbunyi. Aku lalu bangun. Kemudian aku tidur lagi. Berulang ulang aku mengalaminya. Sulit rasanya buat bangun jam tiga”, mukaku tampak  lesu. “bagaimana ini?” tanyaku kepada Lina, teman dekatku.
“kalo kamu ingin bangun jam tiga. Sebelum tidur, kamu harus berkata pada diri sendiri. ‘aku bangun jam tiga, aku bangun jam, aku bangun jam tiga.’, ucakan secara berulang ulang. Hingga terasa ngantuk menghampirimu”, jawab Lina
“serius?”
“enggak, ya iyalah, yang penting kamu niat dulu
“hmmm. Kau sudah pernah mencobanya?”
“Tinggal coba aja kok. Aku sering melakukannya.”
Awalnya aku masih ragu. Apakah benar yang dikatakanLina?, pikirku sebelum tidur. Setelah pikiranku penuh pertimbangan. Akhirnya aku  mencoba. “aku pasti bisa!”,gumamku dalam hati. Aku yakin, aku akan berhasil. Sebelum tidur aku niatkan diri untuk bangun jam 3 sesuai saran dari Lina. Aku pun tidur. Benar ! Tepat jam tiga. Aku  bangun. Dengan spontan. Tanpa alarm. Tanpa ada yang membangunkanku. Setelah bangun. Ku langkahkan kaki ke kamar mandi untuk mencuci muka, berwudhu. Selanjutnya ku sholat tahajud, sholat hajat dan menulis.
Aku terus menulis. Sudah sampai empat lembar. Apa yang aku lakukan sudah di tengah jalan. Mungkin tulisan ini tiga lembar lagi, pikir ku menebak nebak. Di saat saat seperti inilah. Aku  harus melawan diriku sendiri. Beban pikiran mulai bermunculan. Apa aku  bisa menyelesaikan ini?. beban pikiran perlahan lahan mulai keluar. Satu per satu beban itu keluar. Aku uberusaha membuyarkannya. Namun beban pikiran itu terus bermunculan. Tak henti henti hingga mendinginkan semangat diriku yang membara. Aku tak ingin seperti dulu lagi. Ketika aku menulis, sampai paragraf satu, aku berhenti, ngeblank, kehabisan ide. Tak tau apa yang harus aku tulis lagi. Aku merenung.
 “ketika kau ingin bisa menulis. Ya, menulislah”, kata kata penulis terkenal muncul di pikiranku. Namun aku bingung. Harus menulis apa?, tanyaku dalam hati. Entah disambet setan apa. Aku mulai kesal. Merobek, meremas remas kertas yang berisi tulisan yang sudah sampai 4 lembar menjadi bulatan bola kertas. Dan membuangnya ke tempat sampah. Terus berulang ulang. Dalam hal yang sama. Menulis, ngeblank, marah, merobek dan meremas remas tulisanku.
“apa ini!”, aku memaki maki diriku sendiri.
“Mungkin aku tak mempunyai bakat menulis, aku terus menghakimi diriku sendiri. Aku tak bisa apa apa. Aku tak mempunyai bakat apa pun.”
Pagi itu Semangatku semakin meredup. Bahkan mulai padam. Seperti api yang disiram air.
Aku memutuskan untuk berhenti menulis. Kembali ke kebiasaan burukku. Malas malasan, makan, tidur, makan, tidur lagi. Lalu facebookan. Sehabis pulang kuliah sampai maghrib. Namun, saat ku buka facebook dan ku baca status dari salah satu teman kuliahku, aku mulai iri. Diriku memanas. Terbakar keirianku.
“horeee, cerpennya aku masuk majalah story. Sob, besok makan makan ya lumayan honornya”, status itu spintas seperti mengejekku. Seolah olah tulisan itu hidup. Keluar dari layar hpku. Menjalarkan lidah yang amat panjang. Sambil mele mele ke hadapanku. Aku mulai kesal terhadapnya. Hatiku iri dan benar-benar iri. Lalu ku ambil pena dan buku diaryku yang berisi kumpulan cerpen yang pernah kutulis. Aku pun sekilas membaca cerpen yang pernah ku tulis. Aku tertwa melihat tulisanku sendiri. Betapa lucunya tulisanku. Ternyata tulisanku benar benar bagus, kata ku bangga.
“ternyata aku mempunyai bakat menulis”, gumamku.
Langit senja berwarna jingga. ronanya membara,  menjilatku, aku mulai tersengat. Memanas. Berkobar kobar. Untuk merangkak ke depan. Kembali menuangkan ide. Menulis. aku kembali semangat lagi. Lalu  kubuka lembaran kertas kosong. Ku ancang ancang untuk menulis. Awalnya aku bingung. Mau menulis apa ya?, pikirku penuh pertimbangan.
“kalo ingin bisa menulis, ya menulislah”, kata kata penulis terkenal itu kembali terlintas di benakku. Seperti suara pesawat yang melintas di langit. Yang membuatku menatap ke atas. Untuk memandangi pesawat itu. Setelah berfikir panjang. Akhirnya aku pun menulis judul cerpenku. “Me and My Dream”.
Setelah berlembar lembar tulisanku tercapai. Penyakit menulisku muncul kembali. Ngeblank. Aku tak boleh menyerah, pikirku mencegahnya. Aku pun memutuskan untuk berhenti. Menenangkan pikiranku. Aku tak boleh menyerah, batinku. Kutarik nafas panjang panjang. Ku keluarkan pelan pelan. Aku sigap dari tempat dudukku. Berdiri. Mondar mandir dalam kamarku. Berkali kali aku mondar mandir. Tak terhitung. Cukup lama. Galau yang ku rasakan. Pikiranku berantakan tak tertata. Aku sekarang bingung. Harus berbuat apa?. Aku tak boleh menyerah, ucapku sekali lagi. Dalam hatiku berkata penuh keyakinan “aku pasti bisa!, aku pasti bisa!, aku pasti bisa!”
Aku kembali duduk. Mataku menatap langit langit kamar. Yang terlihat hanyalah. Eternit yang bolong. Di gerumuri ramat. Ah, tak penting juga. Kemudian mataku tertuju. Pada tembok kamarku. Yang berada di depan mata. Sebuah kertas manila. Berwarna putih. yang usang. Berdebu.
“petiklah sebuah mimpi, tampunglah dalam sebuah kepercayaan, bawalah dengan tindakan”, tulisan itu terangkai di kertas yang menempel di tembok itu.
Aku terus menatapnya. Aku tau apa maksud tulisan itu. Ia benar, kataku dalam hati. Aku harus mempunyai mimpi, aku harus mempercayai mimpiku ini akan terwujud, dan aku harus bertindak untuk mengejar mimpi mimpiku ini. Ya, aku tau. Tambahku. Di benakku terus berkecamuk berbagai macam pikiran. Bagaimana nantinya kalau mimpi mimpiku tak tergapai?. Apa anggapan ibuku, ayahku, tetanggaku dan orang orang kalau aku tak mempunyai mimpi. Orang pasti beranggapan bahwa aku tak ada gunanya. Yang menyusahkan mereka. Bayang bayang itu terus menghakimiku Penghakiman itu benar benar membuat diriku terbakar. Emosiku meletup. Meledak. Doar!!!
“Ah tidak!!!, kedua tanganku memegang kepalaku. Aku tak boleh menyerah, tak boleh!. Semua orang pasti akan bangga padaku. Tunggu saja”, gerutuku kesal. Penuh khayal Setelah emosiku meledak.
Tanpa berbasa basi. Juga tanpa berpikir panjang. Aku pun kembali melanjutkan tulisanku. Tulisan tentang diriku yang sedang mengejar mimpiku. Aku pasti bisa!, menyelesaikan tulisan ini, batinku penuh keyakinan. Aku pasti bisa!, aku pasti bisa!, aku pasti bisa!, ucapku secara berulang ulang.
Rona senja yang berwarna jingga semakin meredup. Termakan pintu pintu gelapnya malam. Namun gelapnya malam. Tak memakan semangatku. Malah aku semakin semangat. Api semangatku berkorbar terus membara.
*********


Continue reading...
 

Penikmat Aksara Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting