Rabu, 04 April 2018

CERPEN: Bahagialah di sana, Dik



Pada malam aku berbisik, tentang segala luka yang terus menghakimi diriku. Tidak jua ku dapat alur penyelesaiannya. Bertahun-tahun memendam kekecewaan yang membuat hati semakin tersiksa. Bukan hanya kepada mereka yang telah berdusta, akan tetap kepada diri yang terlalu mudah memendam kebencian.
 Tidak seharusnya aku hanya diam membisu. Melihat anak kecil tak berdosa menjadi taruhannya. Anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dan kelembutan dari orang-orang sekitarnya, justru harus ikut merasakan pahitnya kehidupan. Tiada sekalipun ia mendapat perlakuan yang adil dari mereka, para orang tua yang tak punya sedikitpun pengetahuan tentang cinta kepada anak kecil. Padahal mereka mempunyai anak yang seumuran dengannya.
            Sering ku lihat ia tak terurus, bajunya compang-camping, wajahnya yang dahulu terlihat begitu indah dipandang kini terganti dengan wajah pucat pasi. Tak banyak orang yang mengetahuinya. Mungkin hanya Allah yang tahu keburukan-keburukan yang ditimpakan pada anak kecil usia 2 tahunan itu. Setiap kali aku hanya mampu menatapnya dari kejauhan, dari kaca jendela rumah yang berhadapan langsung dengan rumah itu. Rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kesombongannya.
            Aku hanya merasa kasian kepada anak itu. Chika, seorang anak yang belum seharusnya menatap dunia yang pahit. Ayahnya baru saja meninggal dunia, dan ibunya harus bekerja diluar kota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia kini dirawat oleh nenek Mirna, seorang saudagar kaya yang sombong. Hanya kepada cucu tersayangnya saja ia berikan perhatian lebih. Bukan kepada anak kecil yang membutuhkan perlindungan darinya.
            “Nih makan!!!” Nenek Mirna menjejalkan makanan ke mulut Chika siang itu. Chika terus menangis tanpa henti. Pada kenyataannya, ia tak pernah sekalipun disuapi ketika akan makan. Lain halnya dengan Iva, cucu pertamanya yang sangat dimanjakan itu. Ia selalu digendong, dielus-elus dan diberikan perhatian yang lebih.
            “Suruh makan saja susah!!!” Nenek Mirna melempar piring yang berisi makanan kepada Chika. Chika hanya bisa menangis. Air matanya terus mengalir, suaranya sudah hampir habis dengan tangisan itu. Tak ada yang peduli. Ia tak pernah mendapat kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Sungguh malang nasib yang menimpanya. Entah apa yang membuat nenek Mirna begitu kejam terhadap bocah cilik itu.
            Anak kecil seharusnya mendapatkan perlindungan, pendidikan dan kasih sayang dari orang tua. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui dunia luar. Ia tidak seharusnya mendapat perlakuan keras dari orang-orang sekitarnya. Lalu, apa yang bisa aku perbuat untuknya? aku bukanlah ibunya, bukan pula saudaranya. Aku hanya tetangga terdekatnya. Ingin sekali ku belai rambutnya, ku kecup keningnya. Lalu, akan kubawa ia dalam dekapanku.
            Sampai suatu ketika, dunia telah merubah cara berpikir seseorang. Warga desaku telah banyak menyaksikan siksaan keluarga Mirna kepada cucunya sendiri. Mereka pun melapor kepada Ketua RW desaku yang kebetulan adalah kakekku sendiri. Beberapa dari mereka pernah melihat dengan jelas saat nenek Mirna menyiksa bocah cilik itu. Sebagai Ketua RW, kakekku tidak semena-mena dalam menangani kasus tetangganya. Semua membutuhkan bukti yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak ada bukti, sia-sialah saja segala hal yang akan dilaporkan ke pihak berwajib.
            “Ibu, ibu, kita semua membutuhkan bukti jika ingin melaporkan tindak kekerasan nenek Mirna kepada cucunya itu. Bukti itu sangat penting. Kalau hanya melapor tanpa ada bukti yang otentik,  tiadalah gunanya. Sama seperti ketika kita mengisi bak mandi yang  bocor, sebanyak apapun air yang kita tumpahkan kedalamnya, bak tidak akan terisi penuh. Bukankah itu sia-sia saja? Karena mereka lebih cerdas dari yang kita pikirkan.” Jelas Kakek Raji saat warga satu per satu mengeluarkan pendapatnya. Warga pun menerima dengan baik penjelasan dari kakekku.
            Kemudian, saat senja berganti malam, aku memberanikan diri mengintip Nenek Mirna dari jendela kamar yang terlihat langsung ke arah rumah besar bercat biru itu. Mataku mengamati sekeliling rumah  dengan seksama. Tiada kejanggalan malam itu. Sepertinya nenek Mirna dan penghuni rumah itu sudah tertidur lelap. Hanya terdengar suara burung hantu yang menjadi piaraan nenek berusia 65 tahunan itu. Sebelum menutup kembali jendela kamarku, mataku menemukan bayangan manusia yang terlihat jelas di jendela kamar dengan korden berwarna putih. Bayangan manusia itu terlihat sedang memukul anak kecil yang berada dibawahnya. Tidak salah lagi, itu pasti nenek Mirna, batinku. Kemudian tanpa berpikir panjang ku ambil handphone dan mencoba memvideo adegan-adegan itu. Siapa tahu ini bisa dijadikan bukti, batinku lagi.
            Pagi harinya, aku bermaksud menemui kakekku untuk memperlihatkan video yang berhasil ku rekam tempo malam. Namun, saat aku membuka pintu rumah, banyak warga yang berkerumun memenuhi rumah nenek Mirna. Aku tidak tahu betul apa yang terjadi.
            “Ada apa, Pak?” tanyaku kepada salah seorang warga yang berkerumun
            “Chika mati terbunuh dengan tragis. Matanya berlumur darah, kaki dan tangannya tepisah dan kepalanya berdarah akibat pukulan yang keras.”
Mendengar kabar itu, tiba-tiba  jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, handphone yang ku genggam terjatuh,  pikiranku melayang tiada dapat kucegah, mataku tiba-tiba merabun, kaki dan tanganku tiada lagi dapat menopang tubuhku. Aku jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.
            Semua warga melaporkan nenek Mirna ke polisi setempat. Nenek Mirna mengaku bersalah dan ia yang telah membunuh cucunya sendiri. Setelah diperiksa pihak kepolisian dengan menghadirkan Psikolog, ternyata nenek Mirna mempunyai sakit kejiwaan. Ia pun dihukum penjara seumur hidup.
            Perasaan bersalah atas semua hal yang berkaitan dengan kematian Chika selalu terbayang didalam benakku. Jika saja malam itu aku buru-buru datang ke rumah nenek Mirna dan membawa Chika ke rumahku, mungkin semuanya tidak akan setragis ini. Lalu, apa gunanya diriku ini?  hanya sebagai penonton yang tiada berani ditonton. Hanya menjadi patung melihat kejahatan merajalela. Begitu saja terus menerus.
            “Kau sungguh bodoh, Linda!” Aku menghakimi diriku sendiri, setiap ku ingat kejadian malam itu, setiap bayangan-bayangan Chika bergelayut dalam pikiranku.
            Sehari setelah kematian Chika, aku selalu memimpikan bocah cilik itu. Bajunya yang biasanya compang-camping tiada lagi terlihat seperti itu. Dalam mimpi ia memakai pakaian yang bersih, wangi dan enak dipandang. Ia juga selalu mengembangkan senyumnya kepadaku. Bibirnya yang mungil dan pipinya yang dihiasi lesung pipit menambah manis wajahnya. Jika saja itu bukan mimpi, akan kubawa ia hadir disisiku dan akan kurawat dia seperti adikku sendiri. Aku sungguh merindukannya. “Bahagialah disana, Dik.” Batinku lirih.

Continue reading...
 

Penikmat Aksara Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting