Malam semakin larut, tak ada lagi
celotehan dari teman-teman satu kos ku. Hanya terdengar suara mp3 pengahantar
tidur. Aku mulai menulis, menuangkan ide brilian. Tanganku menuntun pena untuk
menari-nari diatas kertas. Goresan pena membentuk huruf, menyatu menjadi sebuah
kata, terangkai menjadi sebuah kalimat. Terbentuklah
coretan yang berantakan, acak dan tak karuan. Namun ku nikmati moment itu.
Dikesunyian malam saat paling mudah mencari inspirasi. Pikiranku menerawang
jauh, mengingat masa-masa SMA ku. Sungguh indah masa SMA itu. Beda sekali
dengan yang kurasakan saat ini. Namun, selalu ku ingat tujuan awalku disini.
Aku harus bisa melawan rasa malas. Aku harus bisa meraih cita cita demi
membuat mereka tersenyum bahagia melihat kesuksesanku nanti.
*****
Aku bangun jam tiga pagi. Walaupun agak
berat, males dan dingin yang
membuatku ingin tidur lagi.
Namun sekarang aku mulai
bangun. Memaksakan diri. Dan akhirnya berhasil. Ku matikan alarm hp stelah
berbunyi berderai kencang. “Akhirnya aku bisa bangun jam 3”, gumamku dengan
rasa bangga. Hari-hari sebelumnya, aku berusaha membiasakan diri untuk bangun
jam tiga pagi. Namun gagal. Meskipun alarm berbunyi dengan nada keras, aku
hanya meraba-raba hp untuk mematikan alarm. Lalu kulanjutkan tidurku.
Pohon
cemara, damar dan pinus menancap di badan bukit yang miring. Udaranya begitu
segar. Alam pegunungan yang begitu indah. Membawa suasana romantis. Bagi setiap
pasangan yang mendatanginya. Aku bersama Fahri, orang yang aku kagumi sejak
awal aku masuk di Perguruan Tinggi. Yang selama ini banyak memotivasiku. Aku
berdiri di puncak bukit bersamanya. Menikmati keindahan alam. Yang membuatku
begitu bahagia. Bersamanya ku selalu tersenyum, bersamanya hidupku lebih
berwarna. Ahh sungguh indah moment ini.
Tiba tiba aku mendengar sebuah suara “Drrrrr Drrrrr, ting tong ting
tong, tolelit, tolelit, tolelit”, Suara itu benar benar Memekik telingaku.
Suara itu terus berderai. Kencang. Lalu aku tersadar. Mendapati diriku sedang
memeluk bantal gulingku, akhirnya aku pun bangun.
Argh!!!
menganggu, gerutuku kesal.
Alarm membuyarkan mimpi indahku bersama Fahri. Akupun mematikan alarmku dan kembali
tidur lagi. Sepuluh menit kemudian. Alarm kembali berbunyi. Derai kencangnya
membangunkan diriku. Lalu aku men-off
kan alarmnya, tidur lagi. Plong. aku bangun kesiangan.
Waduh!, kenapa aku nggak bangun jam tiga?. Ah, sia sia, aku menyesal. Mau tidak mau aku harus mandi, makan dan berangkat kuliah. Walaupun nggak mood.
Waduh!, kenapa aku nggak bangun jam tiga?. Ah, sia sia, aku menyesal. Mau tidak mau aku harus mandi, makan dan berangkat kuliah. Walaupun nggak mood.
*****
“Lin, Aku kok susah ya bangun jam tiga pagi.
Awalnya alarm berbunyi. Aku lalu bangun. Kemudian aku tidur lagi. Berulang
ulang aku mengalaminya. Sulit rasanya buat bangun jam tiga”, mukaku tampak lesu. “bagaimana ini?” tanyaku kepada Lina,
teman dekatku.
“kalo kamu ingin bangun jam tiga. Sebelum tidur, kamu harus berkata pada diri sendiri. ‘aku
bangun jam tiga, aku bangun jam, aku bangun jam tiga.’, ucakan secara berulang
ulang. Hingga terasa ngantuk menghampirimu”,
jawab Lina
“serius?”
“enggak, ya
iyalah, yang penting kamu niat dulu”
“hmmm.
Kau sudah pernah mencobanya?”
“Tinggal
coba aja kok. Aku sering melakukannya.”
Awalnya
aku masih ragu. Apakah benar yang dikatakanLina?, pikirku sebelum tidur.
Setelah pikiranku penuh pertimbangan. Akhirnya aku mencoba. “aku pasti bisa!”,gumamku dalam
hati. Aku yakin, aku akan berhasil. Sebelum tidur aku niatkan diri untuk
bangun jam 3 sesuai saran dari Lina. Aku
pun tidur. Benar ! Tepat jam tiga. Aku
bangun. Dengan spontan. Tanpa alarm. Tanpa ada yang membangunkanku. Setelah bangun. Ku langkahkan kaki ke
kamar mandi untuk mencuci muka, berwudhu. Selanjutnya ku sholat tahajud, sholat hajat dan menulis.
Aku
terus menulis. Sudah sampai empat lembar.
Apa yang aku lakukan sudah di tengah jalan. Mungkin tulisan ini tiga lembar
lagi, pikir ku menebak nebak. Di saat saat seperti inilah. Aku harus melawan diriku sendiri. Beban pikiran
mulai bermunculan. Apa aku bisa
menyelesaikan ini?. beban pikiran perlahan lahan mulai keluar. Satu per satu beban itu keluar. Aku uberusaha
membuyarkannya. Namun beban pikiran itu terus bermunculan. Tak henti henti hingga
mendinginkan semangat diriku yang membara. Aku tak ingin seperti dulu lagi. Ketika aku
menulis, sampai paragraf satu, aku berhenti, ngeblank, kehabisan ide. Tak tau
apa yang harus aku
tulis lagi. Aku merenung.
“ketika kau ingin bisa menulis. Ya,
menulislah”, kata kata penulis terkenal muncul di pikiranku. Namun aku bingung.
Harus menulis apa?, tanyaku dalam hati. Entah disambet setan apa. Aku mulai
kesal. Merobek, meremas remas kertas yang berisi tulisan yang sudah sampai
4 lembar menjadi bulatan
bola kertas. Dan membuangnya ke tempat sampah. Terus berulang ulang. Dalam hal
yang sama. Menulis, ngeblank, marah, merobek dan meremas remas tulisanku.
“apa
ini!”, aku memaki maki diriku sendiri.
“Mungkin
aku tak mempunyai bakat menulis, aku terus menghakimi diriku sendiri. Aku tak
bisa apa apa. Aku tak mempunyai bakat apa pun.”
Pagi itu Semangatku semakin meredup. Bahkan mulai padam.
Seperti api yang disiram air.
Aku memutuskan
untuk berhenti menulis. Kembali ke kebiasaan burukku. Malas malasan, makan, tidur, makan,
tidur lagi. Lalu facebookan. Sehabis pulang kuliah sampai maghrib. Namun, saat
ku buka facebook dan ku baca status dari salah satu teman kuliahku, aku mulai
iri. Diriku memanas. Terbakar keirianku.
“horeee,
cerpennya aku masuk majalah story. Sob, besok makan makan ya… lumayan honornya”, status itu spintas
seperti mengejekku.
Seolah olah tulisan itu hidup. Keluar dari layar hpku. Menjalarkan lidah yang amat panjang. Sambil mele mele ke
hadapanku. Aku mulai kesal
terhadapnya. Hatiku iri dan benar-benar iri. Lalu ku ambil pena dan buku
diaryku yang berisi kumpulan cerpen yang pernah kutulis. Aku pun sekilas
membaca cerpen yang pernah ku tulis. Aku tertwa melihat tulisanku sendiri.
Betapa lucunya tulisanku. Ternyata tulisanku benar benar bagus, kata ku bangga.
“ternyata
aku mempunyai bakat menulis”, gumamku.
Langit
senja berwarna jingga. ronanya membara, menjilatku, aku mulai
tersengat. Memanas. Berkobar
kobar. Untuk merangkak ke depan. Kembali menuangkan ide. Menulis. aku kembali semangat
lagi. Lalu kubuka lembaran kertas
kosong. Ku ancang ancang untuk menulis. Awalnya aku bingung. Mau menulis apa
ya?, pikirku penuh pertimbangan.
“kalo
ingin bisa menulis, ya menulislah”, kata kata penulis terkenal itu kembali terlintas di benakku. Seperti suara pesawat yang melintas di
langit. Yang membuatku
menatap ke atas. Untuk memandangi pesawat itu. Setelah berfikir panjang.
Akhirnya aku pun menulis judul cerpenku. “Me and My Dream”.
Setelah
berlembar lembar tulisanku tercapai. Penyakit menulisku muncul kembali.
Ngeblank. Aku tak boleh menyerah, pikirku mencegahnya. Aku pun memutuskan untuk
berhenti. Menenangkan pikiranku. Aku tak boleh menyerah, batinku. Kutarik nafas
panjang panjang. Ku keluarkan pelan pelan. Aku sigap dari tempat dudukku. Berdiri.
Mondar mandir dalam kamarku. Berkali kali aku mondar mandir. Tak terhitung.
Cukup lama. Galau yang ku rasakan. Pikiranku berantakan tak tertata. Aku
sekarang bingung. Harus berbuat apa?. Aku tak boleh menyerah, ucapku sekali
lagi. Dalam hatiku berkata penuh keyakinan “aku pasti bisa!, aku pasti bisa!,
aku pasti bisa!”
Aku
kembali duduk. Mataku menatap langit langit kamar. Yang terlihat hanyalah.
Eternit yang bolong. Di gerumuri ramat. Ah, tak penting juga. Kemudian mataku
tertuju. Pada tembok kamarku.
Yang berada di depan mata. Sebuah kertas manila. Berwarna putih. yang usang. Berdebu.
“petiklah
sebuah mimpi, tampunglah dalam sebuah kepercayaan, bawalah dengan tindakan”,
tulisan itu terangkai di kertas yang menempel di tembok itu.
Aku terus menatapnya. Aku tau apa maksud tulisan itu. Ia benar, kataku dalam hati. Aku harus mempunyai mimpi,
aku harus mempercayai mimpiku ini akan terwujud, dan aku harus bertindak untuk
mengejar mimpi mimpiku ini. Ya, aku tau. Tambahku. Di benakku terus berkecamuk
berbagai macam pikiran. Bagaimana nantinya kalau mimpi mimpiku tak tergapai?.
Apa anggapan ibuku, ayahku, tetanggaku dan orang orang kalau aku tak mempunyai
mimpi. Orang pasti beranggapan bahwa aku tak ada gunanya. Yang menyusahkan
mereka. Bayang bayang itu terus menghakimiku Penghakiman itu benar benar
membuat diriku terbakar. Emosiku
meletup. Meledak. Doar!!!
“Ah
tidak!!!, kedua tanganku memegang kepalaku. Aku tak boleh menyerah, tak boleh!.
Semua orang pasti akan bangga padaku. Tunggu saja”, gerutuku kesal. Penuh khayal Setelah emosiku meledak.
Tanpa
berbasa basi. Juga tanpa berpikir panjang. Aku pun kembali melanjutkan tulisanku. Tulisan tentang diriku yang sedang
mengejar mimpiku. Aku pasti bisa!, menyelesaikan tulisan ini, batinku penuh keyakinan. Aku pasti bisa!, aku
pasti bisa!, aku pasti bisa!, ucapku
secara berulang ulang.
Rona
senja yang berwarna jingga semakin meredup. Termakan pintu pintu gelapnya
malam. Namun gelapnya malam. Tak memakan semangatku. Malah aku semakin
semangat. Api semangatku
berkorbar terus membara.
*********







0 komentar:
Posting Komentar