Jumat, 18 Maret 2016

CERPEN : Cahaya Kasih itu Tak Akan Meredup


Ketika takdir berkata lain, apa yang patut disesali? Bulir-bulir cinta akan terus temani. Bersama hangatnya kasih tak terhenti.
Siang itu, terik matahari berasa tepat diatas ubun-ubun. Semilir angin hanya sebentar saja menghampiri, kemudian berlalu begitu saja. Tetesan keringat mulai mengalir dari dahi seorang laki-laki berkulit sawo matang yang sedari tadi duduk di gubuk kecil ditengah sawah. Pakaian putih yang dikenakannya kini telah bercampur dengan gulatan lumpur. Begitulah keadaan Marwan, seorang laki-laki lulusan sarjana pendidikan yang kini bekerja di ladang persawahan milik Sardi, Kakeknya. Sudah dua tahun silam ia tinggal di rumah kakeknya di Desa Rambutan. Ibu dan bapaknya sudah meninggal karena kecelakaan saat menghadiri wisuda Marwan bulan April 2013 lalu. Ia kini hanya sebatang kara. Menikmati hidup dengan menumpang di rumah kakeknya. Jika tak ada Kakek Sardi, entah jadi apa dia sekarang. Bahkan, sanak saudaranya yang lain tak begitu memperhatikannya.
            Ia mengusap keringat yang mengalir di pelupuk dahinya. Meski merasa sangat lelah ia meneruskan kembali pekerjaanya.
            “Wan, istirahat dahululah, kau terlihat sangat lelah.” Ucap Didin yang sedari tadi sibuk mengaduk-aduk kopi hitam dan kemudian menyeruputnya.
            “Ahh.. istirahat melulu, kapan selesainya pekerjaan kita, Din.” Jawab Marwan sembari mengambil cangkul yang berada tak jauh darinya.
            “Kau ini, selalu saja begitu. Ya sudahlah aku tak bisa apa-apa lagi.” Jawab Didin pasrah. Didin adalah sahabat karib Marwan di Desa Rambutan. Ia bekerja di ladang persawahan milik Pak Darno yang berada bersebelahan dengan sawah milik Kakek Sardi.
            Bekerja sebagai petani bukanlah salah satu impian Marwan. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali mengabdikan dirinya menjadi pengajar. Menularkan ilmunya kepada anak-anak yang membutuhkan. Tetapi, ia tidak mungkin meninggalkan kakeknya sendiri di rumah yang saat ini ia tempati. Dilema besar terus menyelimuti hati dan pikirannya. Kasih sayangnya kepada Kakek Sardi tak dapat ia bandingkan dengan apapun. Jika kini ia menatap bintang dan bulan selalu bersama, iapun ingin seperti itu bersama kakeknya.
            “Nak, kau sedang apa?” Suara kakek Sardi menggugah lamunan Marwan. Iapun menoleh ke sumber suara yang terdengar sedikit serak-serak itu.
            “Apa yang sedang kau pikirkan, Nak? Kau terlihat bingung?”  Tanya kakek Sardi sembari menepuk punggung Marwan kemudian duduk disampingnya.
            “Tak apa Kek, hanya merasa rindu dengan Bapak dan Ibu.”
            “Maafkan kakek, Nak. Kakek belum bisa mengantarmu ke makam ibu, bapakmu.”
            “Kakek…” ucapnya lirih. Tangannya memeluk tubuh kakeknya. Ia memncoba menahan perasaan haru yang kian menyelimuti hatinya.
            “Kakek tak pernah salah dimata Marwan. Kakek sudah menjadi bapak sekaligus ibu buat Marwan. Tetaplah disisi Marwan. Marwan sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kakek sumber kebahagiaan Marwan sampai saat ini, Kek” Pelukan Marwan semakin erat. Perlahan bening kristal jatuh dari sudut matanya. Sedangkan kakek Sardi, ia mengusap rambut Marwan dengan lembut. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Marwan mengeratkan pelukannya. Air matanya belum juga berhenti menetes. Malam itu, gemerlap bintang menjadi saksi kecintaan Marwan kepada kakeknya. Kala itu, udara malam mulai menusuk tulang, menjalar keseluruh peredaran darah. Dinginnya malam tidak membuat mereka beranjak masuk kedalam rumah. Mereka menikmati suasana malam nan indah itu bersama gemerlap bintang nan indah di langit.
            Seperti biasa, seusai sholat subuh,  Marwan dan kakek Sardi pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Rona bahagia mewarnai hari-hari mereka. Pagi itu, Marwan berniat ke kantor kecamatan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Ia ingin mengurus Kartu Tanda Penduduk yang sudah kadaluarsa. Pakaian batik berwarna cokelat ia kenakan. Sebagai lulusan sarjana, tak mungkin ia pergi ke kantor kecamatan dengan memakai kaos oblong. Ia masih tahu sopan santun ketika bertemu ditempat umum dengan aparat desa sekalipun.
            Ia kembali merapikan pakaiannya. Aroma harum parfumnya membuat Kakek Sardi terbatuk-batuk.
            “Cucu kakek, ganteng sekali kau, Nak.” Ucap kakek sembari terbatuk-batuk kecil.
            “siapa dulu kakeknya.” Balas Marwan sambil mengedipkan mata kanannya, membuat kakeknya begitu gemas.
            “kenapa dari dahulu kau tak melamar pekerjaan, Nak? Kau kan lulusan sarjana pendidikan?” ucap kakek sambil mengaduk-aduk teh manis miliknya. Marwan tidak buru-buru menjawab pertanyaan yang dilontarkan kekek Sardi kepadanya. Pikirannya menerawang jauh mengingat semua perjuangannya sampai ia bisa menamatkan kuliahnya. Betapa besar perjuanganya untuk bisa tamat kuliah, juga betapa besar perjuangan ibu dan bapaknya mendoakan dan membiayai kuliahnya.
            “Nak, kau melamun?” ucap kakek Sardi kemudian.
            “ehh.. ohh, tidak Kek, nanti akan Marwan pikir-pikir lagi. Marwan berangkat dahulu ya Kek.” Marwan mencium tangan kakeknya sembari mengucapkan salam. Ia berlalu dari hadapan kakeknya. Dengan langkah pelan, ia berjalan keluar rumah. Ia terus saja memikirkan ucapan kakeknya. Sungguh, dalam lubuk hatinya ia sangat ingin melamar pekerjaan. Tapi, bagaimana dengan kakek? Pikirnya penuh pertimbangan.
            “Hey… Marwan” panggil seorang laki-laki yang tidak lain adalah sahabat karibnya. Marwan tak menjawabnya hanya melambaikan tangan dan berjalan mendekatinya.
            “Kenapa lagi kau, Wan. Pagi-pagi kok sudah murung?” tanya Didin kemudian.
            “bingung Din.” Jawab Marwan sambil terus memainkan jari-jari tangannya.
            “tak biasanya kau seperti ini Wan. Bingung masalah apa? Jangan-jangan bingung memilih jodoh yaa?” ledek Didin.
            “Ahh.. kau ini, jodoh melulu. Ini masalah pekerjaan Din.” Jawab Marwan sedikit mencurahkan isi hatinya kepada sahabat karibnya itu.
            “Kau mau melamar kerja Wan? Pantas saja pakai batik pagi-pagi begini.” Pertanyaan Didin membuat Marwan semakin geram. Akhirnya ia menceritakan keluh kesahnya kepada Didin. Tentang pekerjaan yang selama ini menjadi impiannya. Dan tentang kakek yang sangat disayanginya.
            “Yasudah Wan, kamu ikuti kata hatimu. Aku yakin kakek Sardi tidak akan melarangmu untuk menggapai impianmu itu.  Kau tak usah bingung-bingung lagi. Aku kan tetangga dekatmu Wan. Aku juga cukup dekat dengan kakekmu. Aku pasti akan menjaganya jika kau tak ada disisinya. Kau tahu sendiri kan Wan, sebelum kau pindah ke sini, aku selalu mengunjungi kakekmu tiap hari. Kakekmu sudah kuanggap sebagai kakekku sendiri, Wan.” Terang Didin kemudian. Ia menepuk-nepuk punggung Marwan. Sedangkan Marwan, ia tiba-tiba memeluk tubuh sahabatnya itu.
            “Terima kasih Din” ucap Marwan sembari menepuk punggung Didin. Ia terus saja berterima kasih kepada sahabatnya itu. Ia seperti mendapat wangsit melalui sahabatnya. Ia semakin bersemangat untuk melamar pekerjaan. Tidak ada lagi keragu-raguan dibenaknya saat ini. Api semangat telah berkobar-kobar. Hari itu juga, ia putuskan untuk melamar pekerjaan. Ia akan mengunjungi sebuah sekolah kecil yang berada di desa seberang. Sebuah desa kecil dan hanya ada satu sekolah di sana.
            Satu buah amplop besar berwarna cokelat yang berisi ijazah dan surat lamaran pekerjaan kini berada ditangannya. Semua berkas-berkas untuk melamar pekerjaan sudah siap. Rona bahagia tersirat di wajah Marwan. Kemudian ia mencari jas hitam pemberian bapaknya. Sudah sekian lama jas hitam itu hanya tersimpan di dalam almarinya. Tak pernah tersentuh sekalipun. Kini, ia akan memakai jas tersebut untuk pertama kalinya dan untuk tujuan yang sungguh mulia. Marwan melihat dirinya di cermin. Senyum bahagia menghiasi bibir mungilnya. Wajahnya yang sering murung kini berubah seketika. Setelah Marwan merasa dirinya sudah pantas, ia kemudian mencari Kakek Sardi. Sudah dua jam lebih Kakek Sardi tidak kelihatan di rumah. Padahal hari ini menjadi hari yang bersejarah dalam hidup Marwan.
            “Wan… wan…” tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari depan rumah memanggil nama Marwan. Ia langsung menghampiri sumber suara itu. “Pak Darno” batinnya lirih.
            “Ada apa, Pak?”
            “Kakek Wan…”
            “Kenapa dengan kakek, Pak?” Wajah Marwan seketika berubah panik.
            “Kakekmu jatuh tak sadarkan diri.”
Mendengar jawaban Pak Darno, tubuh Marwan seketika melemas, amplop yang berada di tangannya terjatuh begitu saja. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ia hanya diam menunduk. Tak berani ia menangis dihadapan Pak Darno, ia malu sebab ia lelaki. Jantung dan hatinya seperti runtuh seketika. Tak banyak orang tahu, rasa cinta yang selalu terpancar dari dalam lubuk hatinya, hanya untuk Kakek Sardi seorang. Orang yang selama ini menemaninya. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa Kakeknya jatuh dan tak sadarkan diri. Apa yang mesti ia perbuat? Matanya kian memejam. Gelap, tak ada sedikitpun cahaya. Marwan pingsan seketika. Tak sadarkan diri.
            Sebagian warga Desa Rambutan sudah berada di rumah Kakek Sardi. Kakek Sardi kini telah tiada. Entah bagaimana perasaan Marwan ketika ia sudah sadar nantinya. Melihat Kakek yang amat dicintainya itu terbujur kaku dihadapannya. Didin, yang sedari tadi menunggu Marwan di kamarnya ikut merasakan kepedihan yang mendalam. Bagaimanapun, Kakek Sardi telah ia anggap sebagai kakeknya sendiri.
            “Din…” suara lirih memanggil nama Didin.
            “Marwan, kau sudah sadar.” Didin mendekatkan tubuhnya disamping ranjang. Ia kemudian memeluk erat sahabat karibnya itu.
            Marwan hanya bisa menangis dipelukan sahabatnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika takdir berkata lain, apa yang patut disesali? Bulir-bulir cinta akan terus temani. Bersama hangatnya kasih tak terhenti. Rona bahagia yang dahulu terpancar di wajah Marwan perlahan meredup. Namun, besar kasih sayang Marwan kepada Kakeknya tak akan pernah meredup, sampai kapanpun.

Terbit di Penerbit Lokamedia kumcer Rindu. 
Biodata Narator :

Rokhayati, lahir di Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswi Universitas Negeri Semarang (UNNES). Ia beralamat di Jl. Taman Siswa, Gang Kantil 1B No. 03, Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Ia bisa di hubungi melalui Facebook Rokha An-Nafsi, E-mail khayyaaa@gmail.com .

0 komentar:

Posting Komentar

 

Penikmat Aksara Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting