Ketika takdir
berkata lain, apa yang patut disesali? Bulir-bulir cinta akan terus temani.
Bersama hangatnya kasih tak terhenti.
Siang itu,
terik matahari berasa tepat diatas ubun-ubun. Semilir angin hanya sebentar saja
menghampiri, kemudian berlalu begitu saja. Tetesan keringat mulai mengalir dari
dahi seorang laki-laki berkulit sawo matang yang sedari tadi duduk di gubuk
kecil ditengah sawah. Pakaian putih yang dikenakannya kini telah bercampur
dengan gulatan lumpur. Begitulah keadaan Marwan, seorang laki-laki lulusan
sarjana pendidikan yang kini bekerja di ladang persawahan milik Sardi, Kakeknya.
Sudah dua tahun silam ia tinggal di rumah kakeknya di Desa Rambutan. Ibu dan
bapaknya sudah meninggal karena kecelakaan saat menghadiri wisuda Marwan bulan
April 2013 lalu. Ia kini hanya sebatang kara. Menikmati hidup dengan menumpang
di rumah kakeknya. Jika tak ada Kakek Sardi, entah jadi apa dia sekarang.
Bahkan, sanak saudaranya yang lain tak begitu memperhatikannya.
Ia mengusap keringat yang mengalir
di pelupuk dahinya. Meski merasa sangat lelah ia meneruskan kembali
pekerjaanya.
“Wan, istirahat dahululah, kau
terlihat sangat lelah.” Ucap Didin yang sedari tadi sibuk mengaduk-aduk kopi
hitam dan kemudian menyeruputnya.
“Ahh.. istirahat melulu, kapan
selesainya pekerjaan kita, Din.” Jawab Marwan sembari mengambil cangkul yang
berada tak jauh darinya.
“Kau ini, selalu saja begitu. Ya sudahlah
aku tak bisa apa-apa lagi.” Jawab Didin pasrah. Didin adalah sahabat karib
Marwan di Desa Rambutan. Ia bekerja di ladang persawahan milik Pak Darno yang
berada bersebelahan dengan sawah milik Kakek Sardi.
Bekerja sebagai petani bukanlah
salah satu impian Marwan. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali mengabdikan
dirinya menjadi pengajar. Menularkan ilmunya kepada anak-anak yang membutuhkan.
Tetapi, ia tidak mungkin meninggalkan kakeknya sendiri di rumah yang saat ini
ia tempati. Dilema besar terus menyelimuti hati dan pikirannya. Kasih sayangnya
kepada Kakek Sardi tak dapat ia bandingkan dengan apapun. Jika kini ia menatap bintang
dan bulan selalu bersama, iapun ingin seperti itu bersama kakeknya.
“Nak, kau sedang apa?” Suara kakek
Sardi menggugah lamunan Marwan. Iapun menoleh ke sumber suara yang terdengar sedikit
serak-serak itu.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Nak?
Kau terlihat bingung?” Tanya kakek Sardi
sembari menepuk punggung Marwan kemudian duduk disampingnya.
“Tak apa Kek, hanya merasa rindu
dengan Bapak dan Ibu.”
“Maafkan kakek, Nak. Kakek belum
bisa mengantarmu ke makam ibu, bapakmu.”
“Kakek…” ucapnya lirih. Tangannya
memeluk tubuh kakeknya. Ia memncoba menahan perasaan haru yang kian menyelimuti
hatinya.
“Kakek tak pernah salah dimata
Marwan. Kakek sudah menjadi bapak sekaligus ibu buat Marwan. Tetaplah disisi
Marwan. Marwan sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kakek sumber kebahagiaan
Marwan sampai saat ini, Kek” Pelukan Marwan semakin erat. Perlahan bening kristal
jatuh dari sudut matanya. Sedangkan kakek Sardi, ia mengusap rambut Marwan
dengan lembut. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Marwan mengeratkan
pelukannya. Air matanya belum juga berhenti menetes. Malam itu, gemerlap
bintang menjadi saksi kecintaan Marwan kepada kakeknya. Kala itu, udara malam
mulai menusuk tulang, menjalar keseluruh peredaran darah. Dinginnya malam tidak
membuat mereka beranjak masuk kedalam rumah. Mereka menikmati suasana malam nan
indah itu bersama gemerlap bintang nan indah di langit.
Seperti biasa, seusai sholat
subuh, Marwan dan kakek Sardi pergi ke dapur
untuk menyiapkan sarapan pagi. Rona bahagia mewarnai hari-hari mereka. Pagi
itu, Marwan berniat ke kantor kecamatan terlebih dahulu sebelum berangkat
bekerja. Ia ingin mengurus Kartu Tanda Penduduk yang sudah kadaluarsa. Pakaian
batik berwarna cokelat ia kenakan. Sebagai lulusan sarjana, tak mungkin ia
pergi ke kantor kecamatan dengan memakai kaos oblong. Ia masih tahu sopan
santun ketika bertemu ditempat umum dengan aparat desa sekalipun.
Ia kembali merapikan pakaiannya.
Aroma harum parfumnya membuat Kakek Sardi terbatuk-batuk.
“Cucu kakek, ganteng sekali kau,
Nak.” Ucap kakek sembari terbatuk-batuk kecil.
“siapa dulu kakeknya.” Balas Marwan
sambil mengedipkan mata kanannya, membuat kakeknya begitu gemas.
“kenapa dari dahulu kau tak melamar
pekerjaan, Nak? Kau kan lulusan sarjana pendidikan?” ucap kakek sambil
mengaduk-aduk teh manis miliknya. Marwan tidak buru-buru menjawab pertanyaan
yang dilontarkan kekek Sardi kepadanya. Pikirannya menerawang jauh mengingat semua
perjuangannya sampai ia bisa menamatkan kuliahnya. Betapa besar perjuanganya
untuk bisa tamat kuliah, juga betapa besar perjuangan ibu dan bapaknya
mendoakan dan membiayai kuliahnya.
“Nak, kau melamun?” ucap kakek Sardi
kemudian.
“ehh.. ohh, tidak Kek, nanti akan Marwan
pikir-pikir lagi. Marwan berangkat dahulu ya Kek.” Marwan mencium tangan
kakeknya sembari mengucapkan salam. Ia berlalu dari hadapan kakeknya. Dengan
langkah pelan, ia berjalan keluar rumah. Ia terus saja memikirkan ucapan
kakeknya. Sungguh, dalam lubuk hatinya ia sangat ingin melamar pekerjaan. Tapi,
bagaimana dengan kakek? Pikirnya penuh pertimbangan.
“Hey… Marwan” panggil seorang
laki-laki yang tidak lain adalah sahabat karibnya. Marwan tak menjawabnya hanya
melambaikan tangan dan berjalan mendekatinya.
“Kenapa lagi kau, Wan. Pagi-pagi kok
sudah murung?” tanya Didin kemudian.
“bingung Din.” Jawab Marwan sambil
terus memainkan jari-jari tangannya.
“tak biasanya kau seperti ini Wan.
Bingung masalah apa? Jangan-jangan bingung memilih jodoh yaa?” ledek Didin.
“Ahh.. kau ini, jodoh melulu. Ini
masalah pekerjaan Din.” Jawab Marwan sedikit mencurahkan isi hatinya kepada
sahabat karibnya itu.
“Kau mau melamar kerja Wan? Pantas
saja pakai batik pagi-pagi begini.” Pertanyaan Didin membuat Marwan semakin
geram. Akhirnya ia menceritakan keluh kesahnya kepada Didin. Tentang pekerjaan
yang selama ini menjadi impiannya. Dan tentang kakek yang sangat disayanginya.
“Yasudah Wan, kamu ikuti kata hatimu.
Aku yakin kakek Sardi tidak akan melarangmu untuk menggapai impianmu itu. Kau tak usah bingung-bingung lagi. Aku kan
tetangga dekatmu Wan. Aku juga cukup dekat dengan kakekmu. Aku pasti akan
menjaganya jika kau tak ada disisinya. Kau tahu sendiri kan Wan, sebelum kau
pindah ke sini, aku selalu mengunjungi kakekmu tiap hari. Kakekmu sudah
kuanggap sebagai kakekku sendiri, Wan.” Terang Didin kemudian. Ia menepuk-nepuk
punggung Marwan. Sedangkan Marwan, ia tiba-tiba memeluk tubuh sahabatnya itu.
“Terima kasih Din” ucap Marwan
sembari menepuk punggung Didin. Ia terus saja berterima kasih kepada sahabatnya
itu. Ia seperti mendapat wangsit melalui sahabatnya. Ia semakin bersemangat
untuk melamar pekerjaan. Tidak ada lagi keragu-raguan dibenaknya saat ini. Api
semangat telah berkobar-kobar. Hari itu juga, ia putuskan untuk melamar
pekerjaan. Ia akan mengunjungi sebuah sekolah kecil yang berada di desa
seberang. Sebuah desa kecil dan hanya ada satu sekolah di sana.
Satu buah amplop besar berwarna
cokelat yang berisi ijazah dan surat lamaran pekerjaan kini berada ditangannya.
Semua berkas-berkas untuk melamar pekerjaan sudah siap. Rona bahagia tersirat
di wajah Marwan. Kemudian ia mencari jas hitam pemberian bapaknya. Sudah sekian
lama jas hitam itu hanya tersimpan di dalam almarinya. Tak pernah tersentuh
sekalipun. Kini, ia akan memakai jas tersebut untuk pertama kalinya dan untuk
tujuan yang sungguh mulia. Marwan melihat dirinya di cermin. Senyum bahagia
menghiasi bibir mungilnya. Wajahnya yang sering murung kini berubah seketika. Setelah
Marwan merasa dirinya sudah pantas, ia kemudian mencari Kakek Sardi. Sudah dua
jam lebih Kakek Sardi tidak kelihatan di rumah. Padahal hari ini menjadi hari
yang bersejarah dalam hidup Marwan.
“Wan… wan…” tiba-tiba terdengar suara
seorang laki-laki dari depan rumah memanggil nama Marwan. Ia langsung
menghampiri sumber suara itu. “Pak Darno” batinnya lirih.
“Ada apa, Pak?”
“Kakek Wan…”
“Kenapa dengan kakek, Pak?” Wajah
Marwan seketika berubah panik.
“Kakekmu jatuh tak sadarkan diri.”
Mendengar
jawaban Pak Darno, tubuh Marwan seketika melemas, amplop yang berada di
tangannya terjatuh begitu saja. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ia hanya diam
menunduk. Tak berani ia menangis dihadapan Pak Darno, ia malu sebab ia lelaki.
Jantung dan hatinya seperti runtuh seketika. Tak banyak orang tahu, rasa cinta
yang selalu terpancar dari dalam lubuk hatinya, hanya untuk Kakek Sardi
seorang. Orang yang selama ini menemaninya. Kini, ia harus menghadapi kenyataan
bahwa Kakeknya jatuh dan tak sadarkan diri. Apa yang mesti ia perbuat? Matanya
kian memejam. Gelap, tak ada sedikitpun cahaya. Marwan pingsan seketika. Tak
sadarkan diri.
Sebagian warga Desa Rambutan sudah
berada di rumah Kakek Sardi. Kakek Sardi kini telah tiada. Entah bagaimana
perasaan Marwan ketika ia sudah sadar nantinya. Melihat Kakek yang amat
dicintainya itu terbujur kaku dihadapannya. Didin, yang sedari tadi menunggu
Marwan di kamarnya ikut merasakan kepedihan yang mendalam. Bagaimanapun, Kakek
Sardi telah ia anggap sebagai kakeknya sendiri.
“Din…” suara lirih memanggil nama
Didin.
“Marwan, kau sudah sadar.” Didin
mendekatkan tubuhnya disamping ranjang. Ia kemudian memeluk erat sahabat
karibnya itu.
Marwan hanya bisa menangis dipelukan
sahabatnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika takdir berkata lain, apa yang
patut disesali? Bulir-bulir cinta akan terus temani. Bersama hangatnya kasih
tak terhenti. Rona bahagia yang dahulu terpancar di wajah Marwan perlahan meredup.
Namun, besar kasih sayang Marwan kepada Kakeknya tak akan pernah meredup, sampai
kapanpun.
Terbit di Penerbit Lokamedia kumcer Rindu.
Biodata Narator
:
Rokhayati, lahir di
Banyumas pada tanggal 1 November 1996. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswi
Universitas Negeri Semarang (UNNES). Ia beralamat di Jl. Taman Siswa, Gang
Kantil 1B No. 03, Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Ia bisa di hubungi
melalui Facebook Rokha An-Nafsi, E-mail khayyaaa@gmail.com .







0 komentar:
Posting Komentar